Audya Azizah :"28 Oktober, Refleksi Sumpah Pemuda"
Sejarah lahirnya hari sumpah pemuda adalah melalui sejarah perjuangan. 28 Oktober ketika berbicara sumpah pemuda maka narasi besar yang diejawantahkan menjadi pertanyaan adalah 'masih adakah pemuda ketika usia hari peringatan sumpah pemuda semakin menua tapi masih saja diisi dengan kegiatan-kegiatan seremonial?'.
Mengingat bahwa peran pemuda adalah sebagai agen perubahan serta agen pembinaan yang menjurus dalam segala aspek. Namun fakta hari ini seperti yang disampaikan sebagian besar kalangan pelajar dan pemuda berlatar belakang organisasi kepemudaan, bahwa tidak sedikit pemuda yang masih serba ikut-ikutan. Padahal kegetiran terus saja terjadi, komersialisasi pendidikan, kolonialisme, rasa apatis, serta kesenjangan-kesenjangan sosial lainnya.
Pada hakikatnya, apa yang mendasari makna dalam sumpah pemuda memang harus dimasuki oleh setiap jiwa pemuda. Sebab kadar dalam pemuda mesti diisi dengan kadar intelektual agar kuantitas pemuda yang ada setara dengan kualitas dalam diri pemuda. Dan dalam memperjuangkan kepentingan orang banyak, gerakan yang dibutuhkan adalah gerakan dalam segala hal. Bukan hanya turun aksi, bukan hanya menulis, tetapi pergerakan yang masuk dalam segala lini.
Ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa hancurnya suatu bangsa bukan karna penguasa berkhianat, melainkan karna pemudanya diam menyaksikan kejahatan yang terjadi. Bicara sumpah pemuda berarti tidak lepas dari sejarah serta semangat memajukan bangsa. Maka yang harus dibangkitkan hari ini adalah api bukan abu dari sumpah pemuda itu sendiri. Sebab tesis dan antitesis memang harus dilengkapi dengan kemampuan berdialektika. Sehingga pemuda hari ini bukan hanya menjadi pemuda yang berfikir tapi juga menjadi pemuda yang mengimplementasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu bentuk implementasi dalam memaknai sumpah pemuda adalah dialog intelektual dengan mempertemukan banyak fikiran melalui diskusi satu arah. Dengan harapan agar nafas kehidupan benar dirasakan. Sebab jika merdeka kaum muda adalah dengan melihat kesejahteraan sosial, maka harus konsisten dalam mengawal perjuangan rakyat. Jika kemerdekaan seperti yang dikatakan orang banyak adalah nafas kehidupan, maka refleksi dari perjuangan adalah benar-benar kepentingan banyak umat.
Pada akhirnya, untuk setiap jiwa yang muda, perkuat dialektika, terus ungkapkan apa yang bisa. Kesadaran kaum muda bukan hanya ada pada ruang intelektual yang disebut bangku pendidikan sekolah dan bangku mahasiswa. Kesadaran sudah bisa lahir dari tubuh organisasi mana saja. Lalu jika yang muda kemudian bertanya dimana wadah pemberdaya, maka mulai buka, berdayakan diri sebagai anak bangsa. Sebab identitas anak muda ada pada fikirannya bukan pada seremonial kegiatan yang dilaksanakannya. Jikapun sudah terlanjut menjadi sampah pemuda, maka mari sama-sama daur ulang agar menjadi pemuda berguna.

Komentar
Posting Komentar